Sabtu, 20 Juli 2013

APRIL - FIERSA BESARI (LIRIK)



Coba tanya hatimu sekali lagi
Sebelum engkau benar benar pergi
Masihkah ada aku didalamnya
Karena hatiku masih menyimpannya

Kisah kita memang baru sebentar
Namun kesan terukir sangat indah
Ku memang bukan manusia sempurna
Tapi tak pernah berhenti mencoba

Membuatmu tersenyum, walau tak pernah berbalas
Bahagiamu juga bahagiaku

Saat kau terlalu rapuh
Pundak siapa yang tersandar
Tangan siapa yang tak melepas
Ku yakin aku

Bahkan saat kau memilih
Untuk meninggalkan aku
Tak pernah lelah menanti
Karena ku yakin, kau akan kembali

Ada engkau dalam setiap doaku
Sungguh aku rindu berbagi tawa
Kini kita tidak lagi menyapa
Biarlah hanya dari kejauhan

Melihatmu tersenyum, walau tak pernah berbalas
Bahagiamu juga bahagiaku

Saat kau terlalu rapuh
Pundak siapa yang tersandar
Tangan siapa yang tak melepas
Ku yakin aku

Bahkan saat kau memilih
Untuk meninggalkan aku
Tak pernah lelah menanti
Karena ku yakin, kau akan kembali

Masih berharap, karena ku yakin kau kan kembali
or you can open this link : http://fiersa.tk/

Aku, Kamu, Kita

by Galant Jodhi Pratama

10 bulan yang lalu

Aku mengetahuimu dan mencoba berkenalan denganmu. Kau menyambutku melalui pesan singkat dengan mimik yang sangat ramah. Aku mulai berbagi cerita denganmu, kaupun begitu. Dari sanalah kisah tentang kita dimulai.


3 bulan yang lalu

Pagi itu aku tertunduk sesaat setelah mata asingmu memandangku. Tetapi kau berdiri dan lurus menatap mataku. Ada perasaan yang tak bisa kujelaskan. Angin berhembus perlahan, kantung plastik hitam melayang di jalan. Lambat.
Ikutlah denganku, aku akan menjagamu”, aku mencoba mengartikan tatapanmu itu.
Kamu tersenyum. Aku bisa merasakan ketulusanmu.
Sejak saling dekat denganmu, ikatan perasaan di antara kita semakin kuat. Kau begitu perhatian dan aku jadi tahu banyak hal tentang dirimu. Entah bagaimana sejak dekat denganmu, aku selalu ingin berada di dekatmu. Menyusup ke balik selimutmu atau mengelus betismu, atau berusaha menjawab semua pertanyaanmu.
Aku senang kau menerimaku sebagai diriku sendiri: Terutama saat kau membelaiku, menyapaku, atau tersenyum padaku.


1 bulan yang lalu

Meski kita sangat dekat, kita bukan sepasang kekasih. Ya, kita hanya teman. Lebih dari itu, mungkin sahabat --- jika tidak berlebihan.
Malam itu aku mengerutkan dahiku. Membaca pesan singkatmu. Sesaat setelah kau mengakhiri percakapan dengan Dimas di telepon.
Ah! Ternyata nggak ada cinta yang murni di dunia ini! Aku muak dengan hubungan yang sepertinya semakin menjenuhkan dan membosankan buatku! Aku kira Dimas berbeda, ternyata sama saja!” , katamu kesal, mungkin setengah berteriak.
Kau melemparkan telepon genggammu sebelum menghempaskan dirimu ke tempat tidur. Aku memilih diam, tak ingin memperburuk suasana.
Ah! Lagi-lagi Dimas yang membuatmu bersedih. Tapi mengapa manusia suka mempertahankan hubungan yang jelas-jelas tak membuat mereka bahagia? Aku hanya bisa mengajukan pertanyaan itu dalam hati.


Rabu itu...

Lalu kita duduk di kursi yang sama. Kau membelai kepalaku, kau beringsut bersandar di pundakku.
Barangkali memang sudah tiba saatnya buatku untuk berpisah dengan Dimas”, katamu. Sungguh, aku bahagia mendengarnya.
Kamu memang baik hati, juga manis. Lelaki datang dan pergi dalam kehidupanmu. Bagimu, perpisahan selalu merupakan kata lain bagi sebuah perjumpaan baru.


3 hari yang lalu

Kini Dimas memintamu kembali padanya. Dia tampan, dia baik, sayangnya dia tidak suka padaku. Dimas merubah sikapnya. Dia begitu dominan dalam hubungan kalian. Dia mengintervensi banyak hal dalam kehidupanmu. Keuangan, rutinitas, perkuliahan, hingga pertemanan. Semua yang membuatku bertanya-tanya...
Cinta macam apa yang mengekang kebebasan?
Cinta macam apa yang memisahkan ‘aku’ dari ‘kamu’?
Cinta macam apa yang tak sanggup menampung ketulusan dan keluasan makna dari kata ‘kita’?
Sayang, pokoknya besok-besok aku gak mau ada dia disini ya...” Demikianlah, tiba juga saatnya kata-kata lembut Dimas menuntut perpisahan kita: Dia tak menginginkan keberadaanku di tengah-tengah kalian.
“Tapi...”. Kamu berusaha menjelaskan.
Aku gak perlu alasan apapun sayang”. Ah, Dimas memang tak ingin mendengar alasan apa-apa lagi darimu, dia hanya ingin aku pergi. Titik. “Kamu lebih sayang aku atau dia?” Dimas mengeluarkan jurus andalannya.
Kamu tertunduk lesu. Dan mungkin kamu sekilas akan memikirkanku. Aku tak bisa berkata apa-apa: Keputusan sepenuhnya ada di tanganmu---meski aku tahu kamu tak mungkin memilihku.


Sekarang

Akhirnya tiba juga waktunya. Sejak pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di rumahmu, aku sadar rumah itu bukan tempat tinggalku untuk selama-lamanya. Dan ternyata: Hari ini kita harus berpisah.
Aku tak bisa menangis, meski sejujurnya sangat bersedih. Terima kasih sudah menjadi teman dan sahabat. Terima kasih untuk semua cerita tentang: Aku, Kamu, Kita.
Aku bahagia kalau kamu bahagia. Semoga kalian berbahagia, tentu saja.
Hubungan kita tak berakhir. Hanya bergeser menjadi relasi yang bisa kita jalin lebih baik. Karena Tuhan sudah tahu lebih dulu, kau bukan untukku.
Iya, cinta itu ada di hati, bukan status. Jika cinta tinggalkan hati, status tidak berarti apa-apa lagi. Biar ku mencintaimu dalam hening, menyayangimu dalam sunyi.
Dan selamat tinggal... Jika waktu mengizinkan, mungkin kita akan bertemu lagi.