by Galant Jodhi Pratama
10 bulan yang lalu
Aku mengetahuimu dan mencoba
berkenalan denganmu. Kau menyambutku melalui pesan singkat dengan mimik yang
sangat ramah. Aku mulai berbagi cerita denganmu, kaupun begitu. Dari sanalah
kisah tentang kita dimulai.
3 bulan yang lalu
Pagi itu aku tertunduk sesaat
setelah mata asingmu memandangku. Tetapi kau berdiri dan lurus menatap mataku.
Ada perasaan yang tak bisa kujelaskan. Angin berhembus perlahan, kantung
plastik hitam melayang di jalan. Lambat.
“Ikutlah denganku, aku akan menjagamu”, aku mencoba mengartikan
tatapanmu itu.
Kamu tersenyum. Aku bisa
merasakan ketulusanmu.
Sejak saling dekat denganmu,
ikatan perasaan di antara kita semakin kuat. Kau begitu perhatian dan aku jadi
tahu banyak hal tentang dirimu. Entah bagaimana sejak dekat denganmu, aku
selalu ingin berada di dekatmu. Menyusup ke balik selimutmu atau mengelus
betismu, atau berusaha menjawab semua pertanyaanmu.
Aku senang kau menerimaku sebagai
diriku sendiri: Terutama saat kau
membelaiku, menyapaku, atau tersenyum padaku.
1 bulan yang lalu
Meski kita sangat dekat, kita bukan sepasang kekasih. Ya, kita
hanya teman. Lebih dari itu, mungkin sahabat --- jika tidak berlebihan.
Malam itu aku mengerutkan dahiku.
Membaca pesan singkatmu. Sesaat setelah kau mengakhiri percakapan dengan Dimas
di telepon.
“Ah! Ternyata nggak ada cinta yang murni di dunia ini! Aku muak dengan
hubungan yang sepertinya semakin menjenuhkan dan membosankan buatku! Aku kira
Dimas berbeda, ternyata sama saja!” , katamu kesal, mungkin setengah
berteriak.
Kau melemparkan telepon genggammu
sebelum menghempaskan dirimu ke tempat tidur. Aku memilih diam, tak ingin
memperburuk suasana.
Ah! Lagi-lagi Dimas yang membuatmu bersedih. Tapi mengapa manusia suka
mempertahankan hubungan yang jelas-jelas tak membuat mereka bahagia? Aku hanya
bisa mengajukan pertanyaan itu dalam hati.
Rabu itu...
Lalu kita duduk di kursi yang
sama. Kau membelai kepalaku, kau beringsut bersandar di pundakku.
“Barangkali memang sudah tiba saatnya buatku untuk berpisah dengan Dimas”,
katamu. Sungguh, aku bahagia mendengarnya.
Kamu memang baik hati, juga
manis. Lelaki datang dan pergi dalam
kehidupanmu. Bagimu, perpisahan selalu merupakan kata lain bagi sebuah
perjumpaan baru.
3 hari yang lalu
Kini Dimas memintamu kembali
padanya. Dia tampan, dia baik, sayangnya dia tidak suka padaku. Dimas merubah
sikapnya. Dia begitu dominan dalam hubungan kalian. Dia mengintervensi banyak
hal dalam kehidupanmu. Keuangan, rutinitas, perkuliahan, hingga pertemanan.
Semua yang membuatku bertanya-tanya...
Cinta macam apa yang mengekang kebebasan?
Cinta macam apa yang memisahkan ‘aku’ dari ‘kamu’?
Cinta macam apa yang tak sanggup menampung ketulusan dan keluasan makna
dari kata ‘kita’?
“Sayang, pokoknya besok-besok aku gak mau ada dia disini ya...”
Demikianlah, tiba juga saatnya kata-kata lembut Dimas menuntut perpisahan kita:
Dia tak menginginkan keberadaanku di
tengah-tengah kalian.
“Tapi...”. Kamu berusaha menjelaskan.
“Aku gak perlu alasan apapun sayang”. Ah, Dimas memang tak ingin
mendengar alasan apa-apa lagi darimu, dia hanya ingin aku pergi. Titik. “Kamu lebih sayang aku atau dia?” Dimas
mengeluarkan jurus andalannya.
Kamu tertunduk lesu. Dan mungkin
kamu sekilas akan memikirkanku. Aku tak bisa berkata apa-apa: Keputusan sepenuhnya ada di tanganmu---meski
aku tahu kamu tak mungkin memilihku.
Sekarang
Akhirnya tiba juga waktunya.
Sejak pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di rumahmu, aku sadar rumah itu
bukan tempat tinggalku untuk selama-lamanya. Dan ternyata: Hari ini kita harus berpisah.
Aku tak bisa menangis, meski
sejujurnya sangat bersedih. Terima kasih sudah menjadi teman dan sahabat.
Terima kasih untuk semua cerita tentang: Aku,
Kamu, Kita.
Aku bahagia kalau kamu bahagia.
Semoga kalian berbahagia, tentu saja.
Hubungan kita tak berakhir. Hanya
bergeser menjadi relasi yang bisa kita jalin lebih baik. Karena Tuhan sudah
tahu lebih dulu, kau bukan untukku.
Iya, cinta itu ada di hati, bukan status. Jika cinta tinggalkan hati, status tidak berarti apa-apa
lagi. Biar ku mencintaimu dalam hening, menyayangimu dalam sunyi.
Dan selamat tinggal... Jika waktu
mengizinkan, mungkin kita akan bertemu lagi.